Senin, 27 Juni 2016

Terapi Behavioristik


Dasar dari terapi behavioristik ialah untuk melakukan perubahan perilaku. Terapi behavior menekankan pada perilaku yang tampak, spesifik, dan diamati. Terapi ini bertujuan untuk mengubah perilaku maladaptif ke perilaku yang adaptif dengan pengahpusan perilaku maladaptive, memperkuat dan mempertahankan perilaku yang ingin diubah. Peran terapis pada terapi ini adalah agen yang melakukan kontrol dan aktif.

A.  Teknik-teknik Terapi Behavioristik
Terdapat beberapa teknik dalam terapi behavior, yaitu:
1.     Disentisasi Sistematis
Teknik terapi ini dikembangkan oleh Joseph Wolpe. Digunakan pada orang-orang yang memiliki kecemasan, phobia, dan penghindaran diri. Prosedur dalam teknik terapi ini:
a.   Klien diminta untuk membuat hirarki ketakutan atau kecemasan (dari taraf rendah hingga tinggi)
b.    Masalah dijelaskan oleh klien
c.  Klien mempelajari dan melakukan teknik relaksasi, maka dilakukan pula hirarki kecemasan.
2.    Exposure Therapy
Teknik ini menghilangkan atau mengurangi perilaku menyimpang yang berkaitan dengan kecemasan. Prosedur pada teknik ini ialah klien langsung dihadapkan pada stimulus atau situasi yang membuatnya menjauh atau takut. Terapi ini dapat dilakukan dalam kehidupan nyata (in vivo) atau dibayangkan (in imagino).
3.    Assertiveness Training
Teknik ini dilakukan pada individu yang mengalami kesulitan menerima kenyataan bahwa menegaskan diri adalah tindakan yang benar. Latihan atau teknik ini dapat membantu orangorang yang tidak mampu mengungkapkan perasaan atau kemarahan karena tersinggung dan memiliki kesulitan dalam mengatakan tidak.
4.    Manajemen Kontingensi
Teknik ini menggunakan teori pengkondisian operan Skinner. Manajemen kontingensi menggunakan kontrak tertulis formal antara klien dan terapis yang mencantumkan sasaran perubahan perilaku, bala bantuan, penghargaan yang diberikan, dan hukuman bila gagal memenuhi tuntutan perjanjian.
5.    Token Ekonomi
Strategi pembentukan perilaku ini bergantung pada penguatan untuk memodifikasi perilaku. Klien dipebolehkan untuk mendapatkan token yang dapat ditukar dengan hak-hak istimewaatau barang-barang yang diinginkan. Teknik ini biasa digunakan di kelas normal, seperti TK, tempat rehabilitasi, penjara, dan lain-lain.
6.    Aversion Therapy
Teknik aversion merupakan terapi yang paling kontroversi. Teknik ini digunakan untuk meredakan gangguan perilaku yang spesifik dengan stimulus menyakitkan sampai stimulus tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Teknik ini juga biasanya berupa kejutan listrik atau pemberian ramuan yang memualkan. Serta sering digunakan untuk membantu klien mengontrol diri sebagai coping masalah terhadap obesitas, merokok, alcohol, dan sexual deviation.
7.    Terapi Pembanjiran dan Implosive
Teknik pembanjiran terdiri atas pemunculan stimulus berkondisi secara berulang-ulang tanpa penguatan. Sedangkan terapi implosive berasumsi bhw tingkah laku neurotic melibatkan penghindaran terkondisi terhadap stimulus-stimulus penghasil kecemasan.

B.   Kelebihan dan Kekurangan Terapi  Behavioristik
1.     Kelebihan Terapi Behavioristik
Terapi behavioristik merupakan terapi yang mudah dipahami, diterapkan pada semua kalangan, praktis, sederhana, logis, serta adanya penekanan pada perilaku yang positif.
2.    Kekurangan Terapi Behavioristik
Terapi terlalu berperan aktif sehinggan tidak memberikan kesempatan klien untuk memilih yang diinginkan, hubungan klien dan terapis bersifat kaku, kurang menyentuh aspek pribadi, serta bersifat manipulatif.


Sumber:

Corey, G. (2009). Konseling dan psikoterapi.  Bandung: Refika Aditama.

Feist, J., & Feist, G. J. (2011). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Kartono, K. (2009). Kamus psikologi. Bandung: Pionir Jaya.

Rabu, 20 April 2016

Terapi Humanistik


Teknik-teknik Terapi Humanistik
Pada terapi humanistik tidak adanya teknik-teknik yang tegas yang diterapkan pada selama pelaksanaan terapi. Metode-metode yang berasal dari terapi gestalt dan analisis transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam pendekatan humanistik. Tugas terapis pada terapi ini adalah menyadarkan klien bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila klien memaknainya. Namun terapi humanistik juga merekomendasikan beberapa teknik (pendekatan) khusus seperti menghayati keberadaan dunia obyektif dan subyektif klien, pengalaman pertumbuhan simbolik (suatu bentuk interpretasi dan pengakuan dasar tentang dimensi-dimensi simbolik dari pengalaman yang mengarahkan pada kesadaran yang lebih tinggi, pengungkapan makna, dan pertumbuhan pribadi).
Pada saat terapis menemukan keseluruhan dari diri klien, maka saat itulah proses terapeutik berada pada saat yang terbaik. Penemuan kreatifitas diri terapis muncul dari ikatan saling percaya dan kerjasama yang bermakna dari klien dan terapis. Proses terapis oleh para humanistik meliputi tiga tahap yaitu:
  1. Tahap pertama, terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Terapis mengajarkan mereka bercermin pada eksistensi mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
  2. Pada tahap kedua, klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dari sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
  3. Tahap ketiga berfokus pada untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupanya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaaan kebebasan pribadinya. 

Sumber: 

Corey, G. (2009). Toeri dan praktik konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Adiatma.

Feist, G. J. dan Feist, J. (2012). Teori kepribadian: theories of personality. Jakarta: Salemba Humanika.

Terapi Humanistik


Terapi humanistik adalah terapi yang berfokus pada diri manusia sendiri. Tujuan terapi humanistik adalah agar klien dapat memiliki nilai-nilai kehidupan, yaitu menghargai kejujuran, keadilan, kebaikan, dan kesederhanaan. Tujuan lainnya ialah untuk pasien agar mengenali dirinya sendiri dan mencari kepuasan akan kebutuhan dasar manusia. Terapi humanistik dapat dikatakan sebagai terapi yang  berpusat pada klien (client-centered).
Terdapat kekurangan maupun kelebihan pada terapi humanistik diantaranya, yaitu:
A.    Kelebihan
  •   Bagi orang-orang yang rentan atau cemas dapat berkembang secara psikologis dengan terapi ini. Karena pada terapi ini klien bertemu dengan terapis yang kongruen, yang mampu menerima klien tanpa syarat, dan dengan empati yang akurat.
  • Klien mempunyai kebebasan dalam menentukan keputusan sendiri.
  •  Terapis memandang klien sebagai manusia dengan kebutuhan manusiawi yang sama seperti yang semua orang miliki.
  • Adanya hubungan interpersonal yang dibangun oleh terapis yang mampu memberikan klien perasaan percayaan diri dan penghargaan diri.
  • Membantu klien membangun hubungan yang sehat di luar terapi.
B.     Kekurangan
  • Pada terapi humanistik tidak bebas dari nilai yang harus mempertimbangkan kenyataan bahwa semua orang mempunyai kecenderungan bawaan untuk berkembang menuju kondisi yang lebih baik.
  • Tujuan terapi humanistik mengikuti dari posisi klien pada hierarki kebutuhan karena kebutuhan fisiologis dan rasa aman adalah kebutuhan yang kuat. Klien yang berada pada hierarki tersebut tidak langsung termotivasi untuk melakukan psikoterapi.
  • Dalam pelaksaannya, terapi humanistik tidak menerapkan teknik-teknik yang tegas seperti pada terapi-terapi lainnya.

Sumber:
Corey, G. (2009). Toeri dan praktik konseling dan psikoterapi. Bandung: Refika Adiatma.

Feist, G. J. dan Feist, J. (2012). Teori kepribadian: theories of personality. Jakarta: Salemba Humanika.

Kamis, 24 Maret 2016

Terapi Psikoanalisis

Teknik Terapeutik Psikoanalisis

Dalam terapi psikoanalisis Freud terdapat 4 teknik yang digunakan, diantaranya yaitu:
1.  Asosiasi Bebas
Melalui asosiasi bebas klien diminta untuk mengutarakan setiap pikiran yang muncul dalam benaknya, tak peduli betapa memalukan atau tak pantas kedengarannya. Dapat dikatakan teknik asosiasi bebas adalah suatu teknik memanggil kembali ingatan atau pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatic di masa lalu. Proses ini tidak mudah dan sejumlah klien tidak bisa menjalani proses tersebut.

2.  Transferens (Transference)
Teknik transference mengacu pada perasaan seksual atau agresif yang kuat, baik positif maupun negatif yng dikembangkan oleh klien selama terapi berlangsung. Transference memunculkan perasaan klien terhadap orang lain (missal orang tua) yang dialihkan kepada terapis, dengan kata lain, perasaan klien terhadap terapis sama seperti perasaan klien terhadap orang tuanya pada masa lalu.

3.  Resistensi (Resistance)
Teknik resistensi adalah ragam respon tidak sadar yang digunakan oleh klien untuk menghambat kemajuan mereka selama terapi.

4.  Analisis Mimpi
Suatu prosedur yg penting untuk menyingkap hal-hal yg tidak disadari dan memberikan kepada klien atas beberapa area masalah yg tidak terselesaikan. Asumsi dasar dari analisis mimpi adalah semua mimpi merupakan upada dalam memenuhi keinginan (wish fulfillments). Freud meyakini bahwa mimpi dibentuk di alam tidak sadar, tetapi mencoba masuk ke dalam alam sadar.


Sumber:

Feist.J. dan Feist.G.J. (2012). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.

Hall.C.S dan Lindzey.G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Rabu, 23 Maret 2016

Terapi Psikoanalisis

Kelebihan & Kekurangan (+/-)
Terapi Psikoanalisis

Terapeutik Psikoanalisis
Tujuan utama dari terapi psikoanalisis Freud adalah untuk mengungkapkan ingatan yang direpresi melalui asosiasi bebas dan analisis mimpi.
Dalam sebuah terapi selalu terdapat kelebihan serta kekurangan. Berikut kelebihan dan kekurangan yang terdapat di dalam terapi psikoanalisis, yaitu:

o   Kelebihan Terapeutik Psikoanalisis
a.    Terapi ini memiliki dasar teori yang kuat,
b.  Melalui terapi ini Freud mampu membangkitkan kembali ingatan masa lalu yang direpres oleh klien.
c.     Terapi psikoanalisis tidak membuat klien mengalami perubahan kepribadian,
d. Menjadi seperti apa yang ingin mereka capai dalam kondisi yang serba mendukung.
e.   Dalam analisis mimpi, tafsir mimpi yang akurat akan mampu mengungkapkan hal yang tersembunyi sehingga gambaran tidak sadar pun terungkap.
f. Terapi psikoanalisis dapat digunakan bersama-sama dengan terapi-terapi lainnya.

o   Kekurangan Terapeutik Psikoanalisis
Freud mencatat adaya sejumlah ketrbatasan dari terapi psikoanalisis, yaitu:
a.   Tidak semua kenangan masa lalu bisa atau baik dibawa ke alam sadar.
b.   Terapi ini tidak efektif untuk penderita psikosis atau penyakit menetap bila dibandingka dengan masalah-masalah seperti fobia, hysteria, dan obsesi.
c.  Klien yang dinyatakan sudah sembuh kemungkinan bisa kembali mengalami masalah psikis yang lain.
d.   Teori terapi psikoanalisis tidak dapat dimodifikasi atau dipersongkat.
e.  Melakukan terapi psikoanalisis cukup memakan waktu yang cukup lama dan panjang,

f.   Serta harus dilakukan oleh terapis ahli.

Sumber:

Feist.J. dan Feist.G.J. (2012). Teori kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.
Hall.C.S dan Lindzey.G. (1993). Teori-teori psikodinamik (klinis). Yogyakarta: Kanisius.

Minggu, 31 Januari 2016

KOMUNIKASI ORGANISASI


A.     Pengertian Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi (Wiryanto, 2005).
Komunikasi Organisasi juga dapat didefinisikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di antara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu. Suatu organisasi terdiri dari dari unit-unit komunikasi dalam hubungan hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan.
Komunikasi organisasi mempunyai hubungan dengan satu atau lebih dimensi-dimensi struktur organisasi (misalnya peranan, status, kompleksitas teknologi, pola-pola otoritas, dan sebagainya). Adapun komunikasi dengan luar organisasi (external communication) ialah pertukaran pesan atau message dengan antara organisasi atau masuknya arus informasi dari luar lingkungan ke dalam lingkungan organisasi.
Adapun komunikasi organisasi dapat diartikan sebagai komunikasi antar pribadi atau kelompok yang bersifat impersonal (atau komunikasi yang terstruktur) yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok/unit kerja dalam satu organisasi.
Dari pengertian komunikasi organisasi di atas dapat disimpulkan bahwa komunikasi organisasi adalah pertukaran, pengiriman, atau peneriman pesan/message yang bersifat terstruktur yang dilakukan oleh pribadi atau kelompok ataupun unit kerja dalam satu organisasi, namun juga dapat dilakukan antar organisasi.

B.      Dimensi-dimensi Komunikasi Organisasi
1.       Komunikasi internal.
Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media nirmassa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.   Komunikasi vertikal, yaitu komunikasi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan dan dari bawahan kepada pimpinan. Dalam komunikasi vertikal, pimpinan memberikan instruksi-instruksi, petunjuk-petunjuk, informasi-informasi, dll kepada bawahannya. Sedangkan bawahan memberikan laporan-laporan, saran-saran, pengaduan-pengaduan, dsb. kepada pimpinan.
b.      Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.
2.       Komunikasi eksternal.
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang ianggap sangat penting saja. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik:
a.  Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti: majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
b.     Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.

C.     Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Organisasi
      Lesikar menguraikan adanya empat faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi yaitu meliputi :
1.                          Saluran komunikasi formal. Merupakan cara komunikasi yang didukung, dan mungkin dikendalikan oleh manajer. Contohnya adalah newsletter, memo reguler, laporan, rapat staf, dan lain-lain.
2.       Struktur wewenang. Perbedaan status dan kekuasaan dalam organisasi membantu menentukan siapa yang akan berkomunikasi dengan enak kepada siapa. Selain itu, isi dan akurasi komunikasi juga dipengaruhi oleh perbedaan wewenang.
3.        Spesialisasi pekerjaan. Biasanya akan mempermudah komunikasi dalam kelompok yang berbeda-beda. Anggota suatu kelompok kerja biasanya memiliki jagron, pandangan mengenai waktu, sasaran, tugas dan gaya pribadi yang sama.
4.               Kepemilikan informasi, Setiap individu mempunyai informasi yang unik dan pengetahuan mengenai pekerjaan mereka, yang merupakan semacam kekuasaan bagi individu-individu yang memilikinya.

D.     Tipe-tipe Komunikasi Organisasi
Menurut Gibson et al. (1997) terdapat tiga jenis komunikasi organisasi, yaitu : komunikasi horizontal, komunikasi diagonal, dan komunikasi vertikal. 
1.      Komunikasi horizontal merupakan bentuk komunikasi secara mendatar dimana terjadi pertukaran pesan secara menyamping dan dilakukan oleh dua pihak yang mempunyai kedudukan sama, posisi sama, jabatan se-level, maupun eselon yang sama dalam suatu organisasi. Menurut Daft (2003), komunikasi bentuk ini selain berguna untuk menginformasikan juga untuk meminta dukungan dan mengkoordinasikan aktivitas. Komunikasi horizontal diperlukan untuk menghemat waktu dan memudahkan koordinasi sehingga mempercepat tindakan (Robbins, 2001). Kemudahan koordinasi ini menurut Liaw (2006) disebabkan adanya tingkat, latar belakang pengetahuan dan pengalaman yang relatif sama antara pihak-pihak yang berkomunikasi, serta adanya struktur formal yang tidak ketat. 
2.      Komunikasi diagonal merupakan komunikasi yang berlangsung dari satu pihak kepada pihak lain dalam posisi yang berbeda, dimana kedua pihak tidak berada pada jalur struktur yang sama. Komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain. Koontz et al. (1989) mengatakan bahwa komunikasi silang ini tidak mengikuti hirarki organisasi tetapi memotong garis komando. Komunikasi ini merupakan saluran komunikasi yang jarang digunakan dalam organisasi, namun penting dalam situasi dimana anggota tidak dapat berkomunikasi secara efektif melalui saluran lain. Penggunaan komunikasi ini selain untuk menanggapi kebutuhan dinamika lingkungan organisasi yang rumit, juga mempersingkat waktu dan memperkecil upaya yang dilakukan organisasi (Gibson et al., 1997). 
3.     Komunikasi vertikal adalah komunikasi yang terjadi antara atasan dan bawahan dalam organisasi. Robbins (2001) menjelaskan bahwa komunikasi vertikal adalah komunikasi yang mengalir dari satu tingkat dalam suatu organisasi/kelompok ke suatu tingkat yang lebih tinggi atau tingkat yang lebih rendah secara timbal balik. Dalam lingkungan organisasi atau kelompok kerja, komunikasi antara atasan dan bawahan menjadi kunci penting kelangsungan hidup suatu organisasi. Bahkan menurut Stoner dan Freeman (1994), dua per tiga dari komunikasi yang dilakukan dalam organisasi antara atasan dan bawahan berlangsung secara vertikal, sehingga peran komunikasi vertikal sangat urgen dalam organisasi.

E.      Hambatan dalam Berkomunikasi di Organisasi
      Komunikasi adalah vital, tetapi komunikasi sering tidak efektif dengan adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang menghambatnya. Berikut ini akan dibahas hambatan-hambatan terhadap komunikasi yang efektif tersebut, dengan dikelompokkan sebagai 1) hambatan-hambatan organisasional, dan 2) hambatan-hambatan antar pribadi.
Hambatan-hambatan Organisasional
      Ada tiga hambatan organisasional, yaitu:
1.       Tingkatan hirarki.
Bila suatu organisasi tumbuh, strukturnya berkembang, akan menimbulkan berbagai masalah komunikasi. Berita yang mengalir ke atas atau ke bawah tingkatan-tingkatan organisasi akan melalui beberapa “filter”, dengan persepsi, motif, kebutuhan dan hubungannya sendiri. Setiap  tingkatan dalam rantai komunikasi dapat menambah, mengurangi, merubah, atau sama sekali berbeda dengan berita aslinya.
2.       Wewenang Manajerial
Tanpa wewenang untuk membuat keputusan tidak mungkin manajer dapat mencapai tujuan dengan efektif. Banyak atasan merasa bahwa mereka tidak dapat sepenuhnya menerima berbagai masalah, kondisi, atau hasil yang dapat membuat mereka tampak lemah. Sebaliknya, banyak bawahan menghindari situasi dimana mereka harus mengungkapkan informasi yang dapat membuat mereka dalam kdudukan yang tidak menguntungkan. Sebagai hasilnya ada kesenjangan “leveling” antara atasan dan bawahan.

3.       Spesialisasi
Meskipun spesialisasi adalah prinsip dasar organisasi, tetapi juga menciptakan masalah-masalah komunikasi, di mana hal ini cenderung memisahkan orang-orang, bahkan bila mereka bekerja saling berdekatan. Akibatnya dapat menghalangi perasaan memasyarakat, membuat sulit memahami, dan mendorong terjadinya kesalahan-kesalahan.






DAFTAR PUSTAKA



Wiryanto, 2005, Pengantar Ilmu Komunikasi, Jakarta: Grameia Wiiasarana Indonesia.






Minggu, 24 Januari 2016

PERENCANAAN ORGANISASI

PT. HPM Indonesia

PT. HPM Indonesia ialah perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 2008 ini merupakan sebuah event organizer yang membantu dalam penyelenggaraan suatu acara, salah satunya adalah konser artis dalam maupun luar negeri. HPM Indonesia berkantor pusat di Jakarta Selatan.

Tujuan Perusahaan:
  Membuat atau menyelenggarakan suatu acara atau event yang sukses sesuai keinginan    costumer.

Visi dan Misi  Perusahaan:
Ø  Menyelenggarakan event yang sukses, disenangi, serta dapat dinikmati segala golongan para penikmat acara.
  •  Melaksanakan acara sesuai dengan jalan acara yang telah disusun.
  • Meminimalisir kesalahan selama acara berlangsung.
  • Mendengarkan kritik dan saran yang diberikan oleh para penikmat acara.
  • Melakukan inovasi di setiap acara yang diselenggarakan.
  • Mendatangkan artis-artis luar yang banyak diinginkan costumer.
  • Melayani baik artis maupun fansnya secara baik dan layak. 

Struktur Organisasi